Hal Yang Wajib Di Ketahui Saat Membuat Novel!
1. Deskripsi bertele-tele
Langit begini, matahari begitu,
angin sepoi-sepoi, daun beterbangan. Sama sekali tidak penting. Kalau untuk
pembangun suasana atau sekadar penyegar sih gapapa, tapi tolong, janganlah anda
menebarkan deskripsi seperti ini di sepanjang novel. Apalagi yang pakai gaya
bahasa sok puitis. Deskripsi langitnya bisa sampai satu halaman penuh.
Saya tidak suka main tuduh,
tapi para penulis yang seperti ini paling-paling hanya ingin pamer kebolehan
dalam sastra. Tidak perlu seperti itu, paduka. Lebih penting lagi anda belajar
dulu ilmu dasar kepenulisan.
2. Opening gaya bocil
Saya pernah sih nulis cerita yang
dibuka dengan "aku bangun pagi oleh alarm di samping tempat tidurku".
Tapi itu waktu saya kelas 3 SD. Nah, yang bikin jengkel, kesalahan seperti ini
sering saya temukan di novel best seller. Sedikit saran, nih,
walaupun saya bukan penulis pro.
Pembukaan itu sebaiknya
diawali dengan aksi yang menarik. Yang tanpa maksud spoiler bisa mengarahkan ke
mana jalan cerita, dan yang lebih penting lagi, menarik pembaca. Sebenarnya
opening bangun pagi masih mending daripada opening dari novel Dilan. coba
tebak. Perkenalan satu bab penuh! yang benar saja, paduka. Saya tidak ingin tahu
apa kerjaan bapaknya Milea, secara doi bahkan belum muncul sebagai peran
penting. Pembukaan seperti ini mending dihapus saja. Yang ada hanya mengusir
pembaca.
3. Love trope sejuta umat
Sebagai remaja, saya tidak pernah
tertarik membaca fiksi remaja lokal. Saya trauma. Paling tropes-nya ga
jauh-jauh dari cinta segitiga, sahabat jadi pacar, benci jadi cinta dll.
Maksudku, coba sekali-kali pikirkan hal lain selain pacaran. Kalau pun ingin
nulis cerita tentang cinta, bisa gak bikin premis yang original? Paling eneg
ketika tokoh utama cewek tidak punya sesuatu yang spesial tapi diperebutkan
cogan.
Biasanya tokoh cewek ini
plin-plan, ceroboh, gak punya tujuan hidup, gak punya perkembangan karakter dan
pikirannya hanya dipenuhi cowok. Tipikal cewek yang sangat tidak pantas
dikejar-kejar. Sudah begitu plot kosong—selain perkara rebutan cewek.
4. Gaya bahasa flat
Ayolah, ini novel, bukan jurnal
harian. Buku itu untuk dinikmati. Saya tidak sudi membayar untuk mendengarkan
kehidupan sehari-hari anda yang membosankan. Apalagi yang dialognya pakai
"Lo gue." Iya, ngerti, anda berusaha membuat cerita yang realistis
dan dekat dengan kehidupan remaja, tapi sekali lagi, gaya kepenulisan itu
berbeda dengan gaya bicara anda dengan teman anda.
Bosan bacanya, rojali.
Apalagi kalau premisnya klise. Sudah alur ngebosenin, gaya bahasa monoton.
Sebenarnya anda berusaha menarik pembaca dari mana—selain dari karakter cogan?
5. Dialog ping-pong
Ini kutipan langsung dari naskah 'Dilan: Dia Adalah
Dilanku Tahun 1990', tanpa saya ubah sedikit pun.
"Aku langsung, ya?"
Dia permisi untuk pergi.
"Kok, tahu rumahku?" kutanya.
"Aku juga akan tahu kapan ulang tahunmu."
"He he he."
"Aku juga tahu siapa Tuhanmu."
"Allah," kujawab sendiri.
"Iya, kan?"
"He he he."
Haha hehe mulu kau, Milea. Yang seperti itu sebaiknya
dinarasikan saja. Seratus halaman lagi baca dialog seperti ini saya bisa masuk
IGD. Tidak masalah sesekali memasukkan dialog panjang, tapi paling tidak
buatlah percakapan yang menarik. Dialog seperti ini disebut dialog
ping-pong karena sekadar dioper-oper seperti bola ping-pong.
Tidak enjoyable, dan pengaruhnya dalam plot tidak ada sama sekali.
6. Protagonis unlikeable
Saya rasa protagonis itu harus likeable,
apalagi dalam sudut pandang orang pertama. Karena dialah yang menggiring kita
di sepanjang cerita. Tidak harus baik hati, tampan dan berani, karena bisa saja
protagonis memiliki latar negatif. yang dimaksud likeable itu
adalah tokoh yang bisa mengundang simpati dan berbagi pikiran dengan pembaca.
Janganlah anda buat protagonis yang terlalu sering membuat keputusan tolol dan
membuat pembaca berpikir apaan sih ni orang. Ingat,
sebucin-bucinnya manusia, dia masih punya akal. Senaif-naifnya manusia, dia
punya pengalaman hidup yang cukup banyak sesuai umurnya. Sedingin-dinginnya
manusia, dia masih punya hati nurani dan tahu apa yang tidak pantas.
Terakhir, pesan saya
untuk para penyuka buku Indonesia. Berhentilah membeli novel dengan ciri-ciri seperti
ini. Tolong. Jangan hilangkan pasar bagi para penulis berkualitas. Saya bosan
merasa perlu memutar bola mata setiap jalan-jalan ke gramed. Tanpa maksud
menghina, beberapa buku tidak layak terbit. Daripada menyalahkan penerbit,
salahkan saja masyarakat kita yang sense literasinya perlu dipertanyakan.

Post a Comment for "Hal Yang Wajib Di Ketahui Saat Membuat Novel!"